CERITA MAHASISWA PASCASARJANA SUKSES JALANI BENCHMARKING

YOGYAKARTA – Kegiatan benchmarking Pascasarjana Universitas Islam Ibrahimy (UNIIB) Banyuwangi ke Universitas Alma Ata Yogyakarta tidak hanya menjadi ajang silaturahmi akademik, tetapi juga ruang berbagi gagasan dan memperkenalkan kualitas riset mahasiswa UNIIB dalam forum eksternal. Dua mahasiswa Pascasarjana UNIIB, Aniq Humaida dan Ahmad Dhoifi Ibrohim berperan menjadi delegasi yang mempresentasikan hasil proposal tesis masing-masing di hadapan mahasiswa UNIIB dan Universitas Alma Ata pada Kamis (27/11/25) di ruang teather Universitas Alma Ata. Keduanya membawa riset dengan sudut pandang berbeda namun sama-sama menonjolkan isu keagamaan, pendidikan, dan dinamika sosial masyarakat.

Aniq Humaida: Membawa Kisah Working Mom ke Ranah Akademik

Aniq Humaida, mahasiswa Pascasarjana dengan penelitian berjudul Analisis Pola Asuh Working Mom dalam Menanamkan Nilai Keagamaan dan Motivasi Belajar Anak di Desa Parijatah Wetan, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, tampil percaya diri dan mengesankan. Kesempatan presentasi secara eksternal ini, justru dijadikan tantangan positif untuknya.

INTERAKTIF: Aniq Humaida, mahasiswa Pascasarjana UNIIB saat presentasi di Universitas Alma Ata pada Kamis (27/11/25)..

Aniq mengisahkan bahwa momen paling berkesan baginya adalah ketika ia berdiri di hadapan audiens Alma Ata, memperkenalkan “Tepuk Cinta” khasnya, dan merasakan bangga karena bisa membawa nama UNIIB. “Saya ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Pasca UNIIB bukan mahasiswa kaleng-kaleng,” tegasnya.

Audiens merespons dengan antusias meski dengan kondisi cukup lelah setelah perjalanan panjang. Aniq mengaku tidak menemukan tantangan berarti karena baginya, tesis adalah “bagian dari tubuh sendiri” yang harus dipahami luar-dalam. Prinsipnya sederhana: everything will pass. Semua akan berlalu, sehingga tidak perlu takut tampil di muka umum.

Selain pengalaman akademik, ia juga menemukan momen unik ketika melihat budaya kampus Alma Ata yang memuliakan dosen. Setelah salat dhuhur, semua dosen antre makan siang gratis dengan tertib. “Ini mencerminkan bagaimana kampus menghargai para pendidik,” ujarnya terkesan.

Ahmad Dhoifi Ibrohim: Menghadirkan Kajian Ketauhidan dalam Perspektif Etnografi

Berbeda dengan Aniq, Ahmad Dhoifi Ibrohim membawa topik kajian etnografi religius berjudul Implementasi Nilai-Nilai Ketauhidan dari Kitab ‘Aqidatul ‘Awam dalam Pembentukan Ketaqwaan Santri di Pondok Pesantren Bustanul Makmur. Ia mendapat kesempatan presentasi berkat kesiapan proposal dan relevansinya dalam forum lintas kampus.

PRESENTASI: Ahmad Dhoifi Ibrohim Mahasiswa Pascasarjana UNIIB, sukses jalani forum di Universitas Alma Ata pada Kamis (27/11/25).

Momen yang paling berkesan baginya adalah sesi tanya jawab yang dihadiri mahasiswa internasional asal Nigeria. Diskusi berlangsung dengan kombinasi bahasa Indonesia dan Inggris. Pertanyaan kritis muncul, terutama terkait isu penggunaan artificial intelligence (AI) dalam studi keislaman dan tantangan digitalisasi terhadap akidah santri.

“Momen ini membuktikan bahwa forum itu bukan hanya formalitas, tetapi ruang transfer ilmu yang sangat hidup,” ungkapnya. Audiens memberikan apresiasi tinggi terhadap novelty penelitiannya yang mengangkat tradisi pesantren melalui pendekatan etnografi.

Tantangan terbesar bagi Dhoifi adalah perbedaan kultur akademik antara UNIIB yang berbasis studi Islam dan Alma Ata yang lebih berfokus pada kesehatan dan ilmu sosial. Untuk itu, ia menyesuaikan cara penyampaian agar lebih interdisipliner dan inklusif. “Saya belajar bahwa riset harus bisa dipahami semua kalangan, tidak hanya lingkup prodi sendiri,” ujarnya.

Pengalaman unik lainnya adalah diskusi menarik dengan mahasiswa Nigeria mengenai perspektif AI dalam Al-Qur’an, serta kekaguman terhadap kebersihan dan budaya akademik Alma Ata yang tertib.

Refleksi dan Pesan Penutup

Umi Nadhiroh sebagai salah satu mahasiswa pascasarjana turut memberikan catatan reflektif saat ikuti Kajian Islam Nusantara di Fakultas Ilmu Budaya UGM pada Jum’at (28/11/25). Umi mengungkapkan benchmarking ini memperkaya wawasan mahasiswa tentang Islam Nusantara, bahwa penyebarannya terjadi melalui budaya, pendidikan, dan keteladanan, bukan dengan kekerasan. Nilai-nilai inilah yang ingin terus diwariskan kepada generasi muda.

TERSENYUM: Umi Nadhiroh dalam forum Kajian Islam Nusantara di FIB UGM pada jumat (28/11/25).

Aniq dan Dhoifi sepakat bahwa benchmarking seperti ini perlu menjadi agenda rutin. Bahkan, keduanya berharap ke depan kegiatan dapat diperluas ke luar negeri seperti Thailand, Malaysia, atau Singapura.

“Suasananya hangat, penuh belajar, dan menginspirasi. Benchmarking seperti ini membuka cakrawala, memacu peningkatan kualitas diri, dan menghubungkan mahasiswa dengan tradisi akademik yang lebih luas,” pungkas Dhoifi.

Kisah mereka membuktikan bahwa mahasiswa UNIIB Banyuwangi siap menjadi duta akademik yang tidak hanya membawa data dan teori, tetapi juga karakter, nilai, dan kebanggaan intelektual.

Gulir ke atas